Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian
Pulang

Hari itu Kamis, 27 Desember 2018. Banyak cerita tentang kehidupan. Tentang perjalanan yang saya arungi selama 1 minggu di kota yang katanya terbuat dari senyuman, Bandung banyak hal, sangat banyak yang saya temui. Tentang perjalanan yang membuat sedikit banyak membekas dalam benak pikiran dan membuat perubahan dalam hidup yang terkadang tak seindah realita. Tentang perjalanan yang sebenarnya diharapkan tapi di tengah perjalanan ingin disudahi saja. Dan sekarang aku ingin bercerita tentang kepulanganku, perjalananku kembali ke rumah, ke kota yang katanya dibuat saat Tuhan Jatuh Cinta, Yogyakarta. 

Pagi itu masih terlalu berat untuk membuka mata mengawali hari menuju stasiun Kiara Condong di kota Bandung. Dalam hati terbesit rasanya ingin istirahat sebentar saja, ingin sebentar saja menikmati indahnya kota yang aku impi-impian dari dulu untuk didatangi. Tapi keadaan tak akan memungkinkan. Harus segera kembali pulang, melanjutkan perjalanan. Bandung memang terbuat dari senyuman, selama perjalanan aku hanya tersenyum memandangi sekitar, dan bergumam " nanti aku akan kembali ke sini, nanti."

Yang aku takutkan setiap kali melakukan perjalanan seorang diri ialah dengan siapa aku bersanding di dalam kereta/bis. Ya begitulah. Di dalam doaku aku memohon semoga Tuhan memberikan teman satu kursi yang tentu akan menjaga kehormatanku sebagai seorang perempuan. Aku harap selalu begitu. 

Sesi perjalanan pulang pertama Alhamdulillah aku masih sendiri. Sangat menarik saat memang sendiri bukan ? Tapi tidak aku bersama dengan seorang Ibu dan anaknya. Kita saling berbicara satu sama lain, saling bertanya bercerita mengenai diri kita maupun orang serta lingkungan sekitar menjadi bahan pembicaraan di antara kami bertiga. Perjalanan ke Cilacap rasanya cukup tak membosankan. Dan kau tau, sang ibu juga orang asing di Bandung. Beliau datang untuk menjenguk putrinya yang telah berkeluarga dan kemudian ikut sang suami yang bekerja di Bandung. Ah batinku menggumam dan seketika pikiranku melayang-layang membayangkan masan depan yang mungkin juga akan sama. Suatu saat mungkin aku memang jarang akan pulang ke rumah, menemui bapak Ibu dan adik perempuanku. Alhamdulillah, di situ aku tersenyum mengucap syukur bahwasanya Allah masih memberikanku kesempatan untuk mengunjungi Ibu Bapak meski hanya 1 bulan sekali hanya untuk mengabarkan, "aku baik-baik saja Pak,Bu."

Perjalanan pun berlanjut. Aku terpaksa harus turun dari kereta karena memang begitu keadaannya harus berganti kereta. Takdir Allah memintaku berhenti sejenak di wilayah yang sama sekali tiada akan terbesit untuk ke sana, Cilacap. Selama 4 jam menunggu kereta itu bukan waktu yang cukup sebentar untuk seorang perempuan yang sedang pergi sendirian. Banyak yang pemandangan cukup menggelikan sebenarnya. Ada sekeluarga yang ayah dan ibu dengan sibuknya mengurus ini itu keberangkatan dan sang anak selalu memanggil "mbak" nya. ketidakmauan sang anak berada di dalam mobil tanpa "mbak" nya. Pikiran dan hatiku tak mau diam. "Mungkinkah suatu saat saya akan seperti itu bersama suami saya? Membiarkan sang anak selalu memanggil mbak nya bukan mama papanya." Aku tidak rela, demi Allah tidak mau seperti itu. 

Ada pemandangan sekeluarga yang mengantarkan anak dan menantunya tk luput juga sang cucu, diciumilah sang cucu disayang layaknya anaknya kecil dulu. Ah, orang tua tiada akan pernah berhenti kasihnya. 

Keretaku kali ini seharusnya berangkat ke Jogja pukul 17.34 WIB, dengan seijin Allah kereta tersebut datang pukul 17.50 WIB. Sebelum itu ada pemandangan lain yang begitu menamparku seakan saat itu juga air mata yang telah Allah karuniakan ingin aku tumpahkan seketika. 

"Mau kemana mbk ?" Ibu-ibu berusia setengah paruh baya mencoba bertanya kepadaku dengan posisi duduk dengan barang bawaan berdus-dus berada di bawahnya. "Mau ke Jogja Bu", begitu kiranya aku menjawab. "Jam berapa mbak?", sautnya kembali. "Seharusnya 5 menit lagi Bu." Perbincanganpun semakin panjang, kutanyakanlah kepada beliau sekiranya tempat mana yang akan menjadi tujuannya dari perjalanan kali ini. "Jakarta". Sependek kata itu terucap, sependek itu saya juga berucap terhenti dan berfikir kembali. "Ibu sendirian ? Ada apa Bu kok ke Jakarta, sendirian juga ?", tanyaku dengan suara sedikit keras karena suara peluit yang menandakan kereta api tujuan tempat lain segera diberangkatkan. "Jenguk anak mbk, anaknya di Jakarta." secepat kereta yang baru saja berngakat secepat itu pula aku tertegun. Entah apa yang Allah ingin katakan, apa yang ingin Allah sampaikan.

Sore itu keterlambatan kereta telah membuat air mataku lebih ingin cepat keluar. Ah bukan, bukan karena keretanya. Tapi karena skenario yang telah Allah sediakan untukku sore kala itu. Bertemu kembali dengan seorang ibu yang telah membuat hatiku tercabik. "Oh Allah, maafkan aku selama rasanya hampir tiada waktu untuk orang tua." Pikiranku melayang jauh ke depan, sekali lagi membayangkan bagaimana jika suatu saat Ibuku yang seperti itu. Dengan posisi yang seperti tidak tau harus ke mana. Membawa barang banyak, dalam keadaan lemah karena usai serta sendirian. Demi Allah, aku tidak rela jika Ibu akan seperti itu nantinya. Bukankah begitu menyakitkan jika melihat orang tua sampai sebegitunya terhadap anaknya, sementara anaknya rasanya tidak ada waktu hanya untuk menemui ayah ibunda. Seberapapun, inilah kasih yang tak lekang oleh jaman. Sang anak pergi jauh, orang tua yang akan ada untuknya. Mungkin ia beliau tidak tau menahu, tapi kasih orang tua tak akan lekang waktu. masih dibawakannya buah tangan untuk sang anak yang dirindu, yang ia temui hanya untuk sebuah peluk dan senyum. 

"Oh Allah, its hurt me". Di situ saya mengikrarkan diri di dalam hati. Jika bukan karena suatu hal yang memaksa Ibu bapakku untuk menemuiku, sungguh Allah aku tidak mau sampai mereka yang menemuiku. Biarkan aku saja yang pulang, biarkan aku saja yang menanggung lelah dan penatnya perjalanan, biarkan akuy saja yang kebingungan arah, dan birkan saja aku yang berkorban. Untuk mereka semuanya sudah cukup. Semoga Engkau Allah mudahkan segala urusan hambaMu ini. 

Kereta yang ditunggu telah tiba. Aku harus pergi, tentu meninggalkan Ibu itu sendiri di tengah keramaian stasiun dan langit yang semakin gelap. Kucium tangan Ibunda, aku berdoa semoga engkau bisa menemui anak yang engkau rindukan Bu.

Kereta yang akan membawaku ke Yogyakarta ini ternyata kereta yang akan membawa penumpang dengan tujuan akhir Surabaya. Masuk kereta aku mencari cari di mana tempat duduk yang seharusnya saya singgahi. Ah, ketakutanku kali ini terjadi. Tet, laki-laki. akhirnya aku seperti kebingungan dan diminta oleh sepsang suami istri yang akan menuju Kutoarjo. Itu kemudahan ke sekian yang telah Allah beri kala perjalanan hari itu. 

Waktu berlalu, akhirnya kereta sampailah di Kutoarjo. Sepasang suami Istri tadi kemudian turun. Tak lama setelah itu seorang Ibu yang maish berusia sekitar 43 tahun duduk di depanku. Cantik, begitu kata pertama yang muncul atas penglihatanku. "Mau kemana Bu ?", tanyaku. "Mau ke Surabaya mbak, anak ada di sana. Ini sendirian, anak satu-satunya itu." Oke, ini sudah ketiga kalinya Allah engkau hadirkan 3 orang Ibu yang tujuannya sama meski dengan orang yang berbeda-beda." "Anaknya kerja Bu di sana ? apa sekolah ?", tanyaku sekali lagi. "Kerja mbk, yang masih sekolah itu istrinya. Baru aja menikah. Ya biarin belajar mbak. Dia ga ada liburnya, susah, jadi mumpung saya yang libur saya aja yang ke sana. " Saya hanya tersenyum. Terus merenungi,. Kepalaku terus berputar putar menengok kembali apa saja yang sudah terjadi hari ini dan apa saja yang telah kulakukan kemarin. 

Setelah menempuh perjalanan berjam-jam akhirnya aku bisa merasakan kembali betapa riwehnya kota Yogyakaeta. segera kukabari orang tua yang tentu telah menunggu kabar kepulanganku ke Kota Jogja. Perjalanan telah usai. Aku telah pulang, dan siap dengan perjalanan baru kembali. 

Tentang perjalanan pulang, memang setiap episode dalam kehidupan kita sejatinya adalah perjalan kita pulang kembali kepada Ilahi. Tentang cinta yang agung yang menumbuhkan cinta di hati para insan manusia di muka bumi untuk saling mengasihi. Tentang cinta yang tulus yang tiada mengharap belas kasaih. Pulang. Karena ada rindu yang terpendam, ada bakti yang harus ditunaikan. Bersama kepulangan kepada Allah Ta'ala, bersama itu pula sejatinya kita melakukan perjalanan sebagai hamba, yang menunaikan salah satu hal yang dicintaiNya. Yaitu tentang berbakti, mengasihi, mencintai Ayah Bunda. Pulang.


 


Karya : Ike Wijayanti