Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan
Menangkal Framing Pemberitaan

Hari-hari ini siapa yang tidak gandrung pada media sosial? Media sosial sudah masuk merecoki berbagai sisi kehidupan kita. Sebelum makan, hidangan dipamerkan di Instagram. Lagi galau, update dulu di Twitter. Butuh saran, tanya lewat WhatsApp story. Akhir pekan pergi liburan, yang dicari di tempat wisata pun spot fotoable supaya bisa pamer kalau lagi piknik kayak anak kekinian. Saat di tempat wisata nyatanya kita lebih mengasyiki timeline medsos dan lalai untuk menikmati suasana tempat wisata.

By the way, rasanya kita tak mungkin lepas dari cengkeraman hiruk pikuk medsos. Hampir mustahil sehari saja tidak membuka salah satu dari Instagram, Twitter, Facebook, atau YouTube. Memang sisi positifnya banyak. Media sosial menjadi tempat segala rupa informasi dibagikan. Kita bisa menemukan status retjeh hingga yang katakanlah petuah para bijak. Banyak tulisan menggugah dibagikan, video-video mencerahkan, hingga yang ringan-ringan bersifat hiburan.Tapi di sisi lain, media sosial adalah lahan membiaknya share-share kebohongan. Belum lama ini dua orang paman-keponakan, Alberto (43) dan Ricardo (21) tewas dibakar massa di depan kantor polisi Reforma Street di Kota Acatlan, Meksiko. Mereka yang sejatinya diamankan petugas karena mengganggu ketertiban saat berurusan dengan penduduk setempat, dituduh kerumunan massa yang jumlahnya semakin banyak mencapai lebih dari seratus orang itu sebagai penculik anak seperti desas-desus penebar ketakutan yang disebar berantai lewat WhatsApp. Alberto dan Ricardo tewas dalam keadaan gosong di tangan massa yang kalap karena menelan kabar burung tanpa dikunyah. Massa menarik paksa dua orang ini yang jelas-jelas tengah diamankan di kantor polisi. Pihak keamanan pun tak mampu menangani kerumunan massa yang kalap. Dan yang pasti, nyawa tidak bisa dikembalikan.

Bukan bermaksud menakut-nakuti sih. Tapi jangan kira kasus ini tak bakal terjadi di Indonesia. Mentang-mentang kejadiannya nun jauh di sana, bukan berarti kau merasa bisa tenang-tenang saja, Ferguso! Masalahnya, kita punya pola penerimaan informasi oleh masyarakat yang mirip dengan kondisi di atas. Di sini kita tahu hoax bukan perkara sepele.

Kasus hoax Ratna Sarumpaet pun belum hilang dari ingatan. Bayangkan saja, jika narasi yang dibangun tidak terbentur penyelidikan kepolisian, mungkin saja ada pihak-pihak yang dikambinghitamkan. Kita tahu begitu banyak orang bersimpati pada nenek-nenek aktivis ini. Jika skenario diteruskan, mungkin saja beberapa pemuda—seperti dalam pengakuan Ratna Sarumpaet—tak bersalah dihakimi massa. Bisa sampai korban nyawa, mungkin bonyok dihajar, atau minimal dapat rundungan di jagat maya.

Maka dari itu, perlu ada benteng dari derasnya arus informasi di dunia maya yang dewasa ini menjadi tempat penyebaran penyelewengan fakta. Kita perlu kenali ada 10 jenis mis- dan disinformasi berikut ini, berdasarkan tuturan Fahruddin Faiz dalam Ngaji Filsafat edisi Post-truth.

Pertama, false connection. Yaitu ketika headline, visual, dan caption tidak mendukung konten. False connection membahas bukan yang utama tapi sampingan yang tidak penting. Penceramah memberi contoh, di Ngaji Filsafat disediakan kopi dan teh tapi ternyata kurang manis, masjidnya agak pelit gula. Bukannya isi kajian yang dibahas, itulah false connection. Contoh lainnya, ngobrol adu gagasan capres tentang Indonesia 5 tahun ke depan tapi yang dibahas bukan program melainkan penampilan capres pakai sepatu murah yang diindikasikan pencitraan.

“Nonton badminton lagi seru-serunya masuk final, yang dibahas justru Jonatan Christie nyopot kaus. Dan media mem-blow up itu. Urusan olahraga, kalau yang dibahas sportifitas, juara, nasionalisme, itu masih nyambung,” tuturnya.

False connection menyebabkan diskusi tidak nyambung dan jadi melebar ke mana-mana. Seharusnya yang dibahas materinya, bukan yang tidak penting. Maka kita perlu berhati-hati dengan jebakan false connection sebab bisa mengalihkan perhatian.

Mis- dan disinformasi kedua adalah manipulated content. Yaitu ketika isinya dimanipulasi/dipalsukan. Sebuah fakta disampaikan dengan cara yang membuat orang melahirkan pemahaman berbeda. Harusnya orang memahaminya A tapi jadinya B. Sebuah informasi dimanipulasi sehingga orang yang menerima jadi tertipu.

Ketiga, misleading content. Tidak dipalsukan, tapi dipakai untuk konteks yang tidak pas. Alias penyalahgunaan informasi untuk framing isu. Misalnya ngomong sesuatu untuk guyon tapi karena punya benci kita masukkan omongan dia ke ranah serius. Biasanya tayangan YouTube yang dipotong sangat rentan membuat misleading. Hati-hati dengan misleading, framenya dipotong kemudian dipakai untuk konteks yang berbeda sama sekali. Memotong dalil untuk digunakan sesukanya termasuk membuat misleading alias menyesatkan. Nah, di sini kita bisa mengira-ngira apakah seruan lantang al-Qur’an Surah al-Nisa: 3 “Nikahilah wanita–wanita yang kamu senangi dua, tiga, dan empat” tanpa mengikutkan kalimat selanjutnya yang berbunyi “Dan apabila kalian khawatir tidak dapat berlaku adil, maka satu cukup atau budak–budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” termasuk salah satu bentuk misleading content.

“Kayak mahasiswa yang tidak lulus-lulus bilang ‘saya memanfaatkan waktu Pak, wal ashri’,” banyol penceramah.

Keempat, fabricated content. Jika manipulated content ada sebuah berita benar tapi disampaikan dengan cara dibelokkan, beda dengan fabricated content yang memang sengaja membuat berita palsu yang tidak ada sebelumnya. Fabricated content memanfaatkan rumus ‘yang palsu kalau diulang-ulang bisa dianggap kebenaran’. Penceramah menceritakan seorang teman wartawannya yang bekerja di desk hukum dan kriminal ketika kehabisan berita maka membuat berita karangan. Ini adalah fabricated content. Salah satu praktik lain dari fabricated content adalah saat sesi debat kita mengutip pemikiran x dari buku y yang sebenarnya itu tidak ada, demi membungkam lawan kita. Dalam bahasa penceramah, “Orang kalau mendengar nama asing mengkeret duluan,”

“Sama seperti kalian kalau nulis skripsi terus bingung, sudahlah dikarang saja. Seolah-olah ada pemikiran itu, kasih footnote entah pengarangnya siapa judul buku berbahasa Inggris yang aneh-aneh. Mesti dosennya nggak ngerti. Nah, itu namanya fabricated content,” kritiknya secara jenaka menggugah kesadaran para audiens.

Kelima, sponsored content. Yaitu konten pesanan. Kamu tolong beritakan ini nanti saya bayar sekian. Media sangat rentan dengan sponsored content.

Keenam, false context. Dalam hal ini konteksnya dipalsukan. Yaitu ketika fakta disampaikan dengan konteks yang palsu. Yang dipalsukan situasinya.

Ketujuh, satire/parodi. Biasa digunakan untuk menyindir dan sifatnya ofensif. Memang tidak ada maksud untuk menjahati, semata-mata untuk lelucon, tetapi berpotensi menipu. Tujuannya kemungkinan besar untuk menjelek-jelekkan. Berpotensi untuk mengelabui pembaca yang tidak cermat menangkap maksud penulis.

Kedelapan, imposter content. Yaitu konten tiruan yang membuat informasi aslinya samar, seolah konten jiplakan adalah sumber utama.

Kesembilan, propaganda. Yaitu untuk iklan atau promosi. Kekeliruan propaganda adalah pada sifat melebih-lebihkan. Sepertinya hebat padahal biasa saja. Memang ada fakta dalam propaganda tapi tidak sehebat seperti yang disampaikan. Semua iklan adalah propaganda termasuk iklan politik (kampanye). Maka jika kita melihat sebuah kampanye yang terasa melebih-lebihkan kandidat itu wajar, sebab itu memang propaganda. Tidak mungkin ada kampanye yang merendah dan mengaku bahwa kelompoknya punya banyak salahnya.“Saya ikut ngaji filsafat tercerahkan luar biasa, hidup saya sekarang menyala-nyala penuh gairah,” tutur penceramah memberi jiplakan adalah sumber utama.

Kesembilan, propaganda. Yaitu untuk iklan atau promosi. Kekeliruan propaganda adalah pada sifat melebih-lebihkan. Sepertinya hebat padahal biasa saja. Memang ada fakta dalam propaganda tapi tidak sehebat seperti yang disampaikan. Semua iklan adalah propaganda termasuk iklan politik (kampanye). Maka jika kita melihat sebuah kampanye yang terasa melebih-lebihkan kandidat itu wajar, sebab itu memang propaganda. Tidak mungkin ada kampanye yang merendah dan mengaku bahwa kelompoknya punya banyak salahnya.

“Saya ikut ngaji filsafat tercerahkan luar biasa, hidup saya sekarang menyala-nyala penuh gairah,” tutur penceramah memberi contoh kalimat propaganda.

Kesepuluh, error. Yaitu keadaan ketika terdapat kesalahan saat proses penyusunan berita sehingga tidak sesuai fakta. Berbeda dengan jenis di atas, sesuai fakta tapi ada yang dimanipulasi, dibelokkan, dan lain sebagainya. Error adalah berita yang memang keliru.

***

Hasil olah Ngaji Filsafat edisi Post-truth 29 Agustus 2018.

Karya : Ahada Ramadhana