10 Jan 2014 | 5:53:45 PM

nmahmada

Topik : 2

Tanggal gabung : 10 Jan 2014

Login terakhir : 10 Jan 2014 | 5:47:36 PM

Bahagia dengan Satu Istri


Beberapa waktu lalu, Akhmad Sahal, teman saya yang sekarang sedang studi di Amerika, menulis kultwit tentang #antipoligami berdasarkan argumen dari Muhamad Abduh. Kita tahu, Abduh adalah salah satu tokoh pembaharu Islam yang sangat berpengaruh dari Mesir. Pemikiran-pemikiran keislamannya banyak menjadi landasan bagi pembaharu Islam selanjutnya di seluruh dunia Islam termasuk di Indonesia.

 

Saya kira kultwit Sahal ini karena kegerahannya melihat praktek poligami di negeri ini. Sekarang ini secara terang-terangan dengan diliput media, pemimpin partai dengan bangga memperlihatkan istri-istrinya. Yang kasat mata bisa kita lihat pada pimpinan partai yang menyebut dirinya partai Islam yaitu PKS. Bahkan sebelum adanya kultwit Sahal ini, Fahri Hamzah secara fenomenal menutup pergantian akhir tahun dengan menulis 500 twit untuk menceritakan secara dramatis dan melankoli kisah poligami presiden partainya, Anis Matta. Katanya sih ia menulis ratusan twit tersebut sambil melakukan ibadah umroh.

 

Sebagai perempuan pastinya saya tidak setuju dengan praktek poligami. Saya teringat dengan buku  Bahagiakan Diri dengan Satu Istri karya Ustadz Cahyadi Takariawan. Menurut saya, meski buku ini bukan buku baru dan  pasti sudah sulit sekali ditemukan di toko buku tapi buku ini sangat relevan untuk mengingatkan kembali soal praktek poligami yang dilakukan petinggi PKS tersebut.

 

Waktu itu terbitnya buku ini berbarengan dengan  hiruk pikuknya poligami Aa Gym yang berakibat Aa Gym ditinggal umatnya yang akhirnya pesantren dan usaha bisnisnya bangkrut. Konon, saking kontroversinya, buku ini sempat ditarik dari peredaran karena membuat gerah aktivis dan petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski yang memberi pengantar buku ini adalah Sri Rahayu Tifatul Sembiring, istri pertama Tifatul Sembiring, Presiden PKS waktu itu.  

 

Kenapa buku ini kontroversi? Wajar saja karena ditulis oleh Ustadz  Cahyadi Takariawan yang merupakan salah seorang anggota Majelis Syuro PKS. Majelis ini menempati posisi tertinggi dalam struktur partai. Sementara sudah jadi rahasia umum kalau ikhwan partai ini lazim melaksanakan praktek poligami dengan tujuan untuk perluasan dakwah Islam. Mereka juga meyakini bila poligami merupakan solusi ideal relasi suami istri bila sang suami ”tergoda.”

 

Di sinilah menarik dan beraninya buku ini. Isinya memang benar-benar menelanjangi praktek poligami yang banyak menyengsarakan kaum istri dan anak serta lebih khusus lagi kata Ustadz Cahyadi, berakibat buruk pada dakwah Islam. Artinya argumen ini mendekonstruksi pemahaman dan keyakinan sebagian besar koleganya di partai. Dalam pendahuluannya, Ustadz Cahyadi mengakui bahwa sebenarnya tema ini merupakan tema yang selalu dia hindari karena supersensitif bahkan hipersensitif. Menurutnya, menulis masalah poligami bukanlah wilayah aman untuk mengungkapkannya. Keputusannya untuk  tetap menulis tema ini, tentulah sangat tidak populer. Bahkan cenderung menentang arus, atau mungkin juga menentang policy partai.    

 

Berbeda dengan Muhamad Abduh dalam menyikapi soal hukum poligami, Ustadz Cahyadi menekankan bahwa ia menulis buku ini bukan dalam rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami. Yang ia tolak adalah praktek poligami itu sendiri. Hal ini dikarenakan banyak fakta dan kasus yang akhirnya ia sendiri punya kesimpulan kalau poligami itu bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan keluarga tapi malah menghancurkan institusi keluarga khususnya perempuan dan anak. Meski ia mengakui pada kasus-kasus tertentu seperti menolong janda dan anak korban konflik, poligami tetaplah menjadi solusi. Tapi kenyataannya sangat jarang suami yang berpoligami karena alasan tersebut. Mayoritas berpoligami karena perempuan yang akan dijadikan istri selanjutnya itu lebih muda, lebih menarik, lebih pintar dan lebih segalanya dibanding istri terdahulunya. Lihat deh istri-istri Luthfi Hasan, mantan Presiden PKS yang sekaramg kena kasus korupsi. Atau isteri kedua Presiden PKS, Anis Matta, yang cantik jelita asala Hongaria. Jadi memang buku ini banyak mengungkap data dan fakta yang didasarkan pada kasus-kasus praktek poligami yang memang menjadi kecenderungan partai dimana penulis terlibat dan dari pengaduan para kliennya karena profesinya sebagai konsultan pernikahan dan keluarga di Jogja Family Center (JFC).

 

Karena itulah dalam buku ini Ustadz Cahyadi menyarankan agar suami membahagiakan dan memaksimalkan diri dengan satu istri. Dari situ, ia mengeksplorasi argumen-argumen doktrin Islam tentang monogami yang menurut saya argumen tersebut mendekonstruksi argumen tentang poligami dalam Islam.

 

Seperti diketahui, biasanya para pelaku poligami membenarkan perbuatannya tersebut pada dua hal: Alquran surat al-Nisa ayat 3 yang membolehkan poligami sampai empat dan mengikuti Sunnah Nabi. Padahal kata Ustadz Cahyadi dan saya sangat setuju dengannya, bila kita melihat kehidupan keluarga Nabi secara cermat, sesungguhnya Nabi itu melakukan monogami. Karena dalam kurun waktu kehidupan rumah tangga Nabi, Nabi itu sangat monogami. Kehidupan rumah tangga Nabi dengan Khadijah itu berlangsung 25 tahun, sementara Nabi mempraktekan poligami itu hanya 10 tahun. Itu pun setelah Khadijah wafat dan kebanyakan pernikahannya itu lebih dikarenakan menolong janda-janda sahabat beliau yang meninggal akibat perang untuk membela Islam. (hal xviii)

 

Sementara ayat Alquran yang menjadi acuan poligami itu pun titik tekannya pada sikap suami yang bisa berlaku adil, bukan pada bolehnya praktek poligami tersebut. Sikap adil susah sekali ukurannya karena sangat melibatkan perasaan, tidak hanya kepuasan materi dan seksual semata. Anugerah perasaan inilah yang merupakan salah satu kelebihan manusia. Seperti yang diulas dengan bagus oleh Bintu Syathi Aisyah Abdurrahman dalam bukunya Istri-istri Nabi, kehidupan istri-istri Nabi saja tak sepenuhnya harmonis, malah cenderung penuh intrik dan saling cemburu karena mereka saling bersaing untuk memperebutkan perhatian Nabi. Untuk sekualitas lelaki seperti Nabi saja, yang banyak diberi kelebihan oleh Allah, Beliau cukup kerepotan mengelola perasaan dan menghadapi isteri-isterinya. Apalagi untuk manusia biasa seperti kita semua. Karena itu kata Ustadz Cahyadi, kita ini bukan Nabi, isteri kita pun bukan Aisyah. Makanya jangan coba-coba berpoligami. (hal 238) keren banget kan pernyataannya?

 

Ada juga yang berargumen berpoligami itu karena untuk menghindari zina. Istilahnya, dari pada selingkuh kan lebih baik poligami. Pernyataan ini sering banget saya terima ketika saya mentwitkan kalau saya tidak setuju poligami. Pasti deh banyak yang menyerang kalau saya ini liberal dan setuju dengan perselingkuhan, dua hal yang saya tolak tanpa ampun.

 

Nah menurut Ustadz Cahyadi, kok bisa poligami dibandingkan dan disejajarkan dengan zina (selingkuh). Penyejajaran seperti ini merupakan cara berpikir yang tak nyambung, dan ungkapan tersebut tidak pada tempatnya sebagai alasan untuk melakukan poligami. Ia menyodorkan beberapa pilihan selain poligami. Misalnya dari pada suami berpoligami lebih baik berpuasa untuk menjaga diri atau konsentrasi dan fokus ke isteri atau onani dan masturbasi atau berkebiri atau berlari-lari untuk membuang energi atau bertobat setiap hari atau aktif dalam kegiatan berorganisasi atau segera naik haji atau banyak pilihan perbuatan yang lebih baik dan positif. Jadi bagi Ustadz Cahyadi, suami tak mesti berpoligami, atau lebih ekstrim lagi berselingkuh, karena pilihan untuk tetap beristri satu tetap yang paling realistis. (hal.99)

 

Ustadz Cahyadi mengakui, banyak yang bertanya kenapa ia tak berpoligami. Dengan memarodikan lagu Aa Gym, ia menjawab:

Jagalah istri, jangan kau sakiti

Sayangi istri, amanah ilahi

Bila diri kian bersih, satu isteri terasa lebih

Bila bisa jaga diri, tidak perlu menikah lagi

 

Bila suami berpoligami

Dakwah akan terbebani

Demarketing menjadi jadi

Dakwah bisa dibenci

 

Jagalah istri, jangan khianati

Jagalah diri, tak perlu poligami

 

Buat saya lagu parodi Ustadz Cahyadi ini perlu dimunculkan lagi di tengah komunitas yang menjadikan poligami sebagai praktek yang lazim. Semoga himbauan Ustadz Cahyadi agar Bahagiakan Diri dengan Satu Istri diikuti, meski saya pribadi tidak terlalu berharap ini terpenuhi di kalangan partainya.

 

Komentar
Tulis Komentar

Anda harus login dahulu untuk menulis komentar