03 Apr 2014 | 2:40:18 AM

ioanesrakhmat

Topik : 28

Tanggal gabung : 26 Mar 2014

Login terakhir : 22 Agt 2014 | 11:29:34 PM

Film Noah, mengapa dilarang diputar di Indonesia?


oleh Ioanes Rakhmat

 

Abstract

 

The ban on Noah movie by Indonesia's Film Censorship Board (Indonesian: Lembaga Sensor Film, or LSF) only raises a big question mark of the actual intention and motive of this board. The writer of this positive academic review of the film strongly suspects that in banning the movie the LSF only followed faithfully but uncritically some Islamic countries which previously had taken the decision to ban the film. It should however be emphasized very strongly that Indonesia, since its political independence, has not been an Islamic country, even though the majority of its population adhere to Islam. It was not and will never be a religious state. We as Indonesians have lived almost seven decades not as an Islamic country, but as a democratic country which should be increasingly strengthened from day to day in its democratic body and spirit. Our society is growing more and more to maturity. Let the citizens themselves freely evaluate the worthiness or the unworthiness of any movies. Don't their responsibility for it be taken over from them by the LSF. Give back to them their rights to watch the film freely and publicly. Even though I have stated my position very clearly, it doesn't mean that we as Indonesians do not need the LSF. We of course need this board, but only insofar as it works scientifically, and not ideologically. Why should it work scientifically? Because science is friendly to arts and even willing to make and help arts grow and make progress from time to time. Moreover, even science itself is an art, a poetry about all realities that are studied and analysed scientifically. On the other hand, it is a proven fact that absolutized world ideologies, particularly religions as outdated closed ideologies, very often ban arts, even stupidly and brutally destroy, slay and kill them and their creators.     

 

 

Rabu, 2 April 2014, selama kurang lebih setengah jam, mulai pukul 20.15 WIB, saya diwawancarai lewat telpon dalam acara talkshow Agama dan Masyarakat Radio KBR68H dan Tempo TV, bertopik film Noah, dengan dipandu Novriantoni Kaharudin. Lewat radio di rumah, saya mengikuti seluruh talkshow ini dengan memantengi frekuensi 89,2 FM, dan aktif berbicara total kurang lebih selama setengah jam, diselang-selingi pertanyaan-pertanyaan dan beberapa iklan. Seluruh acara talkshow interaktif ini sendiri berlangsung selama 1 jam penuh.

 

Film ini disutradarai oleh Darren Aronofsky, berdurasi 139 menit, dan pertama kali diputar di Amerika Serikat 28 Maret 2014. Ide besar film ini sudah muncul 10 tahun lalu dalam pikiran Aronofsky, dan ketika sudah selesai pembuatannya film ini menghabiskan biaya 130 juta US Dollar. Bersama Pakistan, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, dan tidak lama lagi Mesir, Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia melarang pemutaran film ini di Indonesia./1/ Sebaliknya, pemimpin tertinggi Gereja Roma Katolik di Vatikan, Paus Francis, memberikan berkatnya terhadap film Noah setelah percakapan pendek antara dirinya dan bintang utama film ini Russell Crowe. Mengingat situasi di Indonesia ini, saya belum dapat menyaksikan film ini seutuhnya; baru menyaksikannya sepenggal-sepenggal. Tapi saya tertolong untuk mendapatkan gambaran umum film ini dari begitu banyak resensi atas film ini yang terpasang online di Internet.

 

Dalam talkshow itu, yang pertama-tama saya tekankan adalah film Noah bukan film sejarah, apalagi dokumenter sejarah, tapi lebih sebagai produk imajinasi kreatif semua insan perfilman yang terlibat di dalam pembuatannya. Kalaupun ada teks dalam Tanakh Yahudi (Perjanjian Lama gereja) yang menyebut Nuh dan air bah (Kejadian 6-9), empat pasal teks skriptural ini sendiri bukan teks sejarah. Saya mau perlihatkan hal ini dari teks-teksnya sendiri dan dari pengetahuan-pengetahuan kita atas hal-hal yang faktual.

 

 

Saya mulai dari hal yang sangat prinsipil. Kitab suci apapun, meskipun dapat mengandung elemen-elemen sejarah, bukan kitab sejarah, bukan historiografi apapun dalam pengertian modern. Kitab Suci apapun juga bukan kitab ilmu pengetahuan, sekalipun dapat memuat info-info pengetahuan yang dipegang orang yang hidup dalam zaman dan tempat penulisan kitab suci ini. Memandang kitab suci apapun sebagai buku sejarah atau buku ilmu pengetahuan, adalah sesuatu yang keliru (kekeliruan ini bisa kasus per kasus diperlihatkan secara ilmiah) bahkan akan sangat menyesatkan para penggunanya (yakni mengklaim kebenaran doktrin keagamaan sebagai kebenaran sejarah atau sebagai kebenaran ilmu pengetahuan). Selain itu, epistemologi agama berbeda dari epistemologi ilmu pengetahuan; keduanya tidak dapat dipertemukan. Epistemologi yang pertama disebut sebagai epistemologi revelatif fideis: sesuatu itu absah sebagai pengetahuan yang benar jika bersumber dari wahyu (Latin: revelationem) yang cukup diterima benar hanya dengan iman (Latin: fidem). Epistemologi yang kedua disebut epistemologi evidensialis: sesuatu itu absah sebagai pengetahuan yang benar jika berlandaskan bukti (Latin: evidentia) empiris. Dua epistemologi ini bertabrakan satu sama lain; dus, tidak bisa teks-teks kitab suci apapun disamakan dengan teks-teks ilmu pengetahuan.

 

Jika kisah skriptural tentang Nuh dan air bah diperlakukan harfiah sebagai kisah sejarah, kisah faktual yang tidak boleh diubah, ada banyak hal di dalamnya yang mustahil bisa terjadi. Saya mau sebutkan beberapa hal saja, tidak menyeluruh. Misalnya, tidak mungkin hewan-hewan yang hidup di  kawasan-kawasan kutub yang dingin membeku atau di kawasan-kawasan gurun yang memerlukan suhu udara yang tinggi, atau di kawasan hutan-hutan rimba, dapat datang lalu dibawa masuk dan hidup baik dalam bahtera Nuh. Mustahil misalnya sepasang penguin (yang sudah kodratnya tidak bisa terbang) menempuh perjalanan sangat panjang dan lama dari kutub, dengan berjalan kaki, untuk menuju bahtera Nuh, dan meninggalkan ekologi dan habitat kutub yang di dalamnya mereka biasa hidup. Dalam kisah skripturalnya, konon Allah bermaksud untuk membinasakan bukan saja seluruh umat manusia, tetapi juga semua binatang yang hidup di Bumi lewat air bah. Tentu saja maksud Allah ini tidak bisa dilaksanakan terhadap semua binatang yang hidup di dalam air, terhadap semua organisme air yang hidup di kedalaman laut-laut dalam di planet Bumi.

 

Kalau betul semua hewan di planet Bumi terwakili sepasang-sepasang di bahtera Nuh (padahal Allah ingin membunuh semuanya!), sejumlah besar hewan ini, begitu bertemu dan saat mereka merasa lapar, akan saling menyerang, lalu yang satu akan memakan yang lain, sesuai kodrat hewani dan kebiasaan alamiah mereka masing-masing. Menurut kalangan Kristen kreasionis, bahkan berbagai jenis dinosaurus, termasuk jenis-jenis yang buas dari golongan karnivora, ikut serta masuk ke dalam bahtera Nuh./2/ Bayangkanlah, betapa seru dan seramnya suasana di dalam bahtera ini!

 

Soal penyediaan berbagai jenis makanan hewan-hewan dalam jumlah sangat besar, soal kotoran hewan-hewan dan kesehatan mereka, soal suara sangat bising dari semua hewan ini, tentu saja tidak akan dapat diselesaikan oleh Nuh dan keluarganya dalam bahtera itu. Ingat, menurut kisahnya, hewan-hewan ini, yang datang dari seluruh penjuru planet Bumi, bersama kaum keluarga Nuh harus hidup dalam bahtera dengan terapung-apung di permukaan air selama kurang lebih setengah tahun.

 

Menyadari persoalan-persoalan besar dan berat yang akan ditimbulkan oleh hewan-hewan dalam bahtera Nuh, sutradara Darren Aronofsky harus cari sebuah way out, jika dia mau kisahnya dapat berjalan ke depan dan filmnya bisa dirampungkan. Aronofsky terpaksa membuat seluruh hewan tertidur sangat lelap karena bekerjanya kekuatan gaib, begitu mereka semua sudah masuk ke dalam bahtera. Kreatif, bukan? Sekaligus tepat: persoalan fiktif diatasi dengan cara fiktif juga. Selain kreativitas imajinatif ini, Aronofsky berulangkali dalam film Noah juga menegaskan bahwa binatang-binatang seluruhnya tidak bersalah, dan karena itu memerlukan perlindungan; penegasan ini bertentangan dengan Allah yang menghendaki kemusnahan semua binatang. Saya yakin, jika anda aktif dalam gerakan menyayangi binatang, anda akan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menonton film Noah.

 

Selain itu, waktu yang dibutuhkan Nuh untuk membuat sebuah perahu besar dari kayu sangat panjang, kira-kira 98 tahun sampai 120 tahun, jika data waktu dari teks-teks skriptural dipakai. Ini bukan saja menimbulkan masalah daya tahan semua kayu gofir yang dipakai yang usianya sudah satu abad lebih saat air bah datang, tetapi juga masalah jumlah pekerja yang diperlukan dan harus dibayar sejak awal proyek yang tentu sangat, sangat besar, alhasil tidak dapat ditanggung Nuh sendirian. Sebuah proyek pembuatan sebuah perahu besar yang berlangsung selama satu abad lebih adalah sebuah proyek yang sudah gagal begitu dimulai! Tetapi dalam film Noah, persoalan serius ini tidak timbul karena Aronofsky mengerahkan “Pengawas-pengawas”, yakni malaikat-malaikat yang telah jatuh/3/ yang, sebagai akibatnya, berubah, dalam film ini, menjadi makhluk-makhluk besar bertubuh batu seluruhnya. Setelah meyakinkan Nuh, makhluk-makhluk batu ini membantunya membangun bahtera besarnya dengan cekatan dan cepat. Dalam film, bahtera ini selesai dibuat dalam sepuluh tahun, berbentuk sebuah peti mayat besar yang memberi impresi teror yang menakutkan.

 

Bahwa kisah Nuh dan air bah dalam Tanakh Yahudi bukan kisah sejarah, terlihat dari adanya sebuah dokumen lain yang memuat kisah sejenis yang berbeda detailnya. Dokumen ini sangat tua, berasal dari milenium ketiga SM (yakni dari lima ribu tahun lalu), berjudul Epik Gilgamesh, yang disusun di Mesopotamia./4/ Epik akbar ini jelas menyediakan model utama kisah Nuh dan air bah dalam Tanakh Yahudi, persisnya dalam kitab Kejadian yang keseluruhannya disusun pada abad ke-6 SM. Dokumen-dokumen ekstrakanonik pseudepigrafis kitab 1 Henokh dan kitab Yobel tampak juga memperkaya gambaran-gambaran imajinatif dalam film Noah, khususnya mengenai malaikat-malaikat dari surga atau Para Pengawas yang memasuki kawasan dunia yang berperan besar dalam pembuatan bahtera Nuh dan dalam sebab-musabab timbulnya bencana air bah sendiri./5/

 

Jangan dilupakan, banyak orang berpikir bahwa pelangi baru muncul setelah air bah pada zaman Nuh karena Allah baru pada waktu itu membuatnya sebagai tanda perjanjian dengan Bumi dan dengan semua makhluk bahwa tidak akan ada lagi air bah yang akan melanda Bumi kapanpun juga di masa depan. Tetapi kita tahu bahwa pelangi itu suatu fenomena alam yang biasa, yang bisa dijelaskan mengapa terbentuk sehabis hujan, yang tentu sudah muncul saat tata surya terbentuk 5 milyar tahun lalu. Ini usia faktual tata surya kita, dus juga usia planet Bumi. Bagi kalangan literalis skripturalis, planet Bumi diyakini baru berusia 6.000 tahun, maksimal 10.000 tahun. Pada abad ke-17 sebuah mitos modern tentang usia planet Bumi dibangun oleh uskup kepala Armagh yang bernama James Ussher (1581-1656) dalam karyanya The Annals of the World (London, 1658)./6/ Sang uskup kepala ini, mewakili kaum literalis lain, menghitung-hitung usia jagat raya (bahasa Alkitabnya “langit dan Bumi”) berdasarkan informasi-informasi dalam Alkitab yang, pertama-tama, dipahami secara literalis, dan juga dengan memakai bantuan kalkulasi astronomis dan komparasi dengan sistem penanggalan sejarah paganisme, dan (katanya) dengan bimbingan Roh Kudus juga. Perhitungannya ini berakhir dengan kesimpulannya bahwa Allah menciptakan dunia persis di hari Minggu, 23 Oktober 4004 SM! Itu berarti sekarang ini usia jagat raya (dus juga usia planet Bumi dalam pikiran sang uskup) adalah 4004+2014= 6018 tahun. Sains modern sendiri menemukan bahwa jagat raya kita berusia 13,8 milyar tahun yang diawali dengan big bang. Kesenjangan besar antara angka-angka kaum literalis religius dan angka-angka dari sains modern ini memberi kita sebuah pelajaran: betapa ada jurang tidak terseberangi antara teks-teks kitab suci dan teks-teks sains modern!

 

 

Satu hal lain yang sukar atau mustahil diterima akal sebagai fakta dalam kisah skriptural tentang Nuh dan air bah adalah umur Nuh yang sangat panjang, 600 tahun, saat air bah datang melanda permukaan Bumi. Apakah ini sebuah fakta, ataukah sebuah metafora numerologis yang khusus diberlakukan para penulis kitab suci kepada orang-orang suci zaman kuno seperti Nuh dan beberapa orang lainnya (misalnya Adam yang mencapai usia sampai 930 tahun menurut Kejadian 5:5; Metusalah yang mencapai umur sampai 969 tahun menurut Kejadian 5:27) sebagai sebuah bentuk pengakuan, pujian dan pengagungan atas kekhususan, kesucian dan kedekatan mereka dengan Tuhan? Saya condong memilih yang kedua. Mazmur 90:10 menyebut usia manusia maksimal 70 sampai 80 tahun; dan dalam Kejadian 6:3 dinyatakan umur manusia maksimal akan mencapai 120 tahun. Kisaran 70 sampai 120 tahun untuk usia maksimal manusia masuk akal dan sejalan dengan fakta-fakta yang kita lihat pada zaman kita juga. Umur yang sangat panjang, misalnya sampai 1000 tahun, hanya dimungkinkan dicapai pada zaman modern lewat sains dan teknologi. Sementara kini sedang dikaji terus-menerus oleh pakar gerontologi ternama Aubrey de Grey yang menggunakan strategi SENS (Strategies for Engineered Negligible Senescence), beberapa dasawarsa dari sekarang usia 1000 tahun ini mungkin akan dapat dicapai./7/    

 

Jadi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus simpulkan bahwa kisah Nuh dan air bah dalam Tanakh Yahudi itu adalah kisah fiktif, bukan kisah faktual. Dari bukti-bukti fosil yang direkonstruksi kita tahu dengan pasti bahwa berbagai jenis dinosaurus pernah hidup di planet Bumi lalu lenyap 66 juta tahun lalu karena sebuah meteor besar menumbuk sangat dahsyat permukaan planet ini yang mengakibatkan rusaknya semua ekosistem yang ada, yang melenyapkan nyaris semua kehidupan di darat./8/ Tetapi hingga saat ini kita tidak mempunyai satu bukti arkeologis apapun untuk memastikan bahwa air bah pada zaman Nuh pernah melanda planet Bumi dan bahwa dia pernah membuat sebuah perahu sangat besar untuk memasukkan wakil-wakil semua binatang yang hidup di muka Bumi ke dalamnya untuk diselamatkan. Penting kita ketahui, ada sebuah lembaga yang bernama Noah's Ark Ministries International (NAMI) yang menyebarkan “junk science”, yang seolah telah membuktikan bahwa air bah pada zaman Nuh adalah suatu peristiwa sejarah dan bahteranya sebuah benda faktual. Tetapi semua klaim NAMI ini telah diperlihatkan sebagai klaim-klaim yang dibangun berdasarkan penyalahgunaan arkeologi untuk kepentingan propaganda agama Kristen./9/ Selain itu, analisis internal atas teks-teks Tanakh Yahudi (Kejadian 6-9) yang sudah dilakukan di atas harus membuat kita, sekali lagi, menyimpulkan kisah ini sepenuhnya fiktif, tetapi memiliki muatan pesan moral yang jelas.

 

Jadi, karena kisah skriptural Nuh sendiri adalah fiksi, yakni fiksi moral, biarlah insan kesenian dan perfilman mengembangkan imajinasi masing-masing yang akhirnya melahirkan sebuah film besar Noah yang unsur-unsur fiktif imajinatifnya jauh lebih banyak lagi dengan muatan pesan-pesan moral yang juga jelas. Mengapa kreativitas imajinatif mereka harus kita campakkan karena alasan bahwa film Noah telah menyimpang dari data dan info teks-teks kitab suci, padahal data dan info skriptural ini sendiri bukan data dan info faktual? Mengapa menolak sebuah film fiktif yang dibangun dengan bertolak dari fiksi juga? Mengapa mengabaikan fakta bahwa fiksi-fiksi moral juga menyandang fungsi edukatif yang bisa mendewasakan moral masyarakat? Mengapa takut menerima fakta bahwa firman Allah juga sampai ke manusia lewat fiksi-fiksi dan dongeng-dongeng? Tentu anda harus cerdas dan bijak memilih, mana fiksi dan dongeng yang membangun kehidupan dan peradaban, dan mana yang membinasakan kehidupan dan peradaban. Pilih yang pertama, dan singkirkan yang kedua.

 

Jadi, perlu ditekankan lagi, film Noah karya sutradara Darren Aronofsky betul-betul karya imajinasi yang sangat bebas dan kreatif, bukan film sejarah apalagi film dokumenter sejarah. Tetapi seandainya pun kisah Nuh dan air bah dianggap kisah sejarah, setiap sejarah selalu multitafsir, tidak ada kebenaran tunggal sejarah. Jadi, biarkanlah film Noah sebagai sebuah tafsir atas “sejarah” masa lampau seandainya kisah skriptural tentang Nuh kita pandang sebagai kisah sejarah. Sebagai pembanding, baiklah kita mengacu ke film Soekarno yang belum lama ini diputar di kota-kota besar di Indonesia. Film Soekarno mengisahkan sosok yang hidup beberapa dasawarsa lalu, sangat, sangat dekat dengan kita jika dibandingkan dengan masa penulisan kisah-kisah fiktif kehidupan sosok mitologis Nuh dan bencana air bah pada masa kehidupannya. Meskipun demikian film Soekarno ini juga menuai kontroversi khususnya antara Rachmawati Soekarnoputri dan sutradara Hanung Bramantyo, di sekitar beberapa detail kesejarahan sosok besar bangsa Indonesia ini./10/

 

Jadi, sebagaimana kontroversi film Soekarno tidak mencegahnya untuk diputar, biarlah juga hal yang sama terjadi dengan film Noah yang kontroversial. Lewat kontroversi-kontroversi yang berlangsung dengan sehat, pengetahuan kita akan maju ke depan. Jadi, terasa aneh jika LSF melarang pemutaran film Noah, sebuah film fiktif, yang dibuat para insan perfilman yang mengembangkan imajinasi mereka dengan bebas dan kreatif. Jika kreativitas dihambat dan dipasung, akan binasalah sebuah peradaban pada akhirnya, dengan diawali kebodohan massal di mana-mana.

 

Karena film Noah adalah film fiktif, tentu saja imajinasi pembuatnya bebas berkelana ke mana-mana, tidak perlu terpaku pada teks skriptural Kejadian 6-9. Tetapi sekalipun film Noah fiktif, pesan spiritualnya sangat sejalan dengan pesan teks keagamaan Kejadian 6-9: pertarungan antara “the good and the bad”. Yang berada dipihak “the bad” adalah seluruh umat manusia di muka Bumi termasuk juga hewan-hewan, kecuali hanya Nuh dan sejumlah anggota keluarganya yang terdekat yang berada di pihak “the good”. Dalam film Noah, sosok Nuh (diperankan oleh Russell Crowe) diperlihatkan bergumul di antara dua kutub moralitas ini, karena dia juga melihat dirinya bagian tidak terpisah dari umat manusia yang mau dimusnahkan. Dalam pergumulannya inilah Nuh terdorong untuk juga membunuh cucunya sendiri, yang pada ahkirnya tidak jadi dilakukannya. Sebaliknya, istri Nuh (diperankan oleh Jennifer Connelly) melihat mereka sekeluarga sebagai orang-orang baik, tanpa cacat. Kata sang istri, “kita semua manusia yang baik, anak-anak kita juga orang-orang baik.” Selain itu, ada sosok yang dalam film Noah dinamakan “Creator” (bukan “God”), sang Pencipta, yang pada satu pihak tidak bisa lagi membenarkan semua tingkah laku dan isi pikiran serta isi hati pihak “the bad”; tetapi pada pihak lain, manusia sebagai pihak “the bad” ini adalah ciptaan-Nya sendiri yang segambar dan serupa dengan diri-Nya.

 

Di mana sang “Creator” harus berdiri memihak? Ini adalah persoalan teodise yang telah menjadi persoalan klasik dalam teologi agama-agama teistik./11/ Saat sang Pencipta ini mengambil sebuah keputusan untuk melenyapkan umat manusia dari muka planet Bumi, maka moralitas sang Pencipta ini juga menjadi sebuah persoalan besar. Ada sisi “good” dan ada sisi “bad” dalam diri sang Pencipta sendiri, dengan sisi “bad”-nya akhirnya yang tampil menonjol. Lantas muncul sebuah persoalan moral besar: Apakah sang Pencipta yang semacam ini, yang tega memusnahkan seluruh umat manusia dan menyisakan segelintir saja, masih patut dipandang dan dipercaya sebagai sang Pencipta yang mahakasih dan maha penyayang, yang layak dipuja-puja, disembah-sembah dan ditaati? Perenungan dan pergumulan moral ini demikian dalam, kompleks, dan multidimensional. Saya akui, sangat sulit bagi kita untuk keluar dari dilema moral yang kompleks ini, yang melibatkan sang Pencipta di dalamnya. Dilema moral ini dengan keras mencampakkan ideal-ideal teragung kita tentang sosok yang disembah dan dipercaya sebagai sang Pencipta. Sanggupkah anda memikirkan, merasakan dan memahami, dalam teror ilahi berupa air bah ini, anak-anak, bayi-bayi bahkan janin-janin dalam rahim para perempuan, semuanya dibunuh oleh sang Pencipta, dengan menenggelamkan mereka?

 

Menyadari dilema moral yang pelik, berat dan mengenaskan ini, sutradara Aronofsky tampaknya memberi sebuah jalan keluar yang berani dalam diri karakter bajingan yang bernama Tubal-Kain (diperankan oleh Ray Winstone) yang berpandangan bahwa apa yang membuat seseorang itu manusia sejati adalah kemandiriannya yang penuh untuk mengambil keputusan-keputusan sendiri, sama sekali tidak bergantung pada sang Pencipta manapun atau pada kode moralitas apapun. Sebelum wafat, Tubal-Kain berkata kepada Nuh, “Aku katakan kepadamu, mukjizat-mukjizat sang Pencipta tidak berarti apapun bagiku.” Demikianlah, ketika Ham (putra kedua Nuh) akan akhirnya membunuh Tubal-Kain demi menyelamatkan ayahnya, Tubal-Kain berkata kepadanya, “Sekarang engkau telah menjadi seorang manusia”, persisnya karena Ham akhirnya bertindak mandiri dan dengan kesadaran diri yang dalam, dan dengan demikian melampaui kategori baik dan buruk yang kerap dilematis. Memakai idiom filsafat Barat modern, eksistensialisme yang ditawarkan Aronofsky ini memang kena, membuat kehidupan menjadi tidak atau kurang pelik. Kata Konfusius, “hidup itu sebenarnya sederhana, tapi kita ngotot membuatnya jadi pelik.”

 

Tetapi, apa itu eksistensialisme? Robert C. Solomon merumuskannya demikian: “Eksistensialisme adalah suatu penemuan diri (self-discovery). Prasuposisinya selalu kata sum dari ucapan Descartes (bukan Cogito-nya).... Eksistensialisme memperdalam individualisme kita. Sikap dan perilaku eksistensial pertama-tama adalah suatu sikap dan perilaku kesadaran-diri (self-consciousness)... dan saat seseorang menjadi lebih sadar diri, maka dunia dari saat ke saat makin menjadi kepunyaannya.... Ketika sikap dan perilaku itu akhirnya menyatakan dirinya sendiri [dalam refleksi-refleksi filosofis], maka sikap dan perilaku ini tidak lagi menjadi sindroma personal tetapi menjadi makna-makna universal yang kita dapat terima sebagai sikap dan perilaku kita sendiri.... Kesadaran diri menjadi rumah dari suatu kebenaran pertama yang universal mengenai semua orang.”/12/

 

Bagaimanapun juga, kesadaran, kemandirian dan keberanian mengambil keputusan-keputusan moral sendiri hanya baik dan berguna jika si pengambil keputusan sudah betul-betul memiliki kedewasaan, kematangan dan kecerdasan nurani dan kedisiplinan bernalar; dengan kata lain, sudah menjadi manusia eksistensialis, yakni manusia sejati. Inilah yang ditawarkan sang sutradara film Noah di dalam suatu dunia yang kerap memperhadapkan kita pada berbagai dilema moral yang pelik. Kelebihan lainnya dari sang sutradara adalah dia, dengan independen, tidak sependapat dengan sang Pencipta bahwa semua binatang harus juga dimusnahkan. Baginya, semua binatang harus dicintai dan diberi pengayoman. Bukankah ini semua gagasan-gagasan yang mengagumkan?

 

Kembali ke LSF. Sebagaimana diinfokan, jika LSF memakai asas manfaat sebagai salah satu kriterion pensensoran atau pelarangan sebuah film, film Noah jelas sangat bermanfaat mencerdaskan dan membangun kesadaran moral kita di era modern ini. Jadi, langkah LSF melarang film ini tidak dapat dipahami jika asas manfaat digunakan. Kriterion kedua LSF adalah sebuah film harus bisa menjaga kerukunan enam agama resmi di Indonesia. Tentu ini kriterion yang penting. Lantas, apa soalnya? Soalnya adalah apakah film fiktif Noah, hasil kreativitas imajinasi, akan membuat enam agama itu bertempur satu sama lain? Faktanya tidak, jika kita mengacu ke keadaan belakangan ini di masyarakat Amerika.

 

Yang umumnya berkeberatan terhadap film Noah ya kalangan Kristen konservatif Amerika, yang tampak tidak menyadari betul bahwa kisah Nuh dan air bah terdapat di dalam Tanakh Yahudi, bukan di dalam kitab suci Perjanjian Baru mereka. Seorang yang dengan bangga menyebut diri Kristen kreasionis, Ken Ham, misalnya, menyatakan kepada majalah Time bahwa film Noah adalah suatu penghinaan terhadap orang Kristen, yang di dalamnya nyaris tidak ada petunjuk kalau film ini setia kepada kesaksian Alkitab, dus film ini tidak alkitabiah dan kafir dari awal hingga akhir./13/ Dalam blognya yang diberi nama Redstate, mengakhiri tinjauannya yang sengit atas film ini Erick Erikson menyatakan bahwa “kita perlu dan harus mempertimbangkan untuk membakar di kayu sula pemimpin Kristen manapun yang mendukung film ini.”/14/ Anda yang berhati lembut tidak perlu kaget dengan pernyataan-pernyataan keras dan bengis dua orang Kristen ini. Kematian Yesus dikayu salib, yang dipercaya orang Kristen sanggup mengubah secara magis kepribadian manusia, dari sepenuhnya jahat menjadi sepenuhnya baik, tokh tidak tampak berkekuatan magis dalam diri dua orang ini. 

 

Kalangan Kristen yang bisa mengadopsi modernitas dan nilai-nilai kesenian modern, dan yang terbiasa berpikir dalam jalur ilmu pengetahuan, malah banyak yang memberi apresiasi tinggi atas film ini. Pada sisi lain, orang Yahudi umumnya, yang Tanakh mereka ditafsir dengan sangat kreatif dan imajinatif untuk melahirkan film Noah, tampak tenang-tenang saja, tak menjadi berang dengan pemutaran film ini mula-mula di Amerika, dan tidak terdengar berita bahwa negara Israel akan melarang film Noah diputar di negeri ini. Semoga anda sudah tahu, sutradara film Noah, Darren Aronofsky, dan rekannya dalam menulis naskah skenario film ini sekaligus bekas teman sekamarnya waktu kuliah di Harvard, Ari Handel, adalah dua orang Yahudi tulen.

 

Kembali ke negeri kita. Dulu sebuah film fiktif tentang Yesus yang dinilai banyak orang Kristen memojokkan agama Kristen, yakni film The Da Vinci Code (produksi 2006), tokh lolos sensor LSF dan kita bebas menontonnya, dan dari pihak gereja-gereja di Indonesia sama sekali tidak ada reaksi kekanak-kanakan yang agresif dan ofensif pada waktu itu. Jadi, LSF sendiri tidak konsisten saat sekarang ini melarang pemutaran film Noah di Indonesia, yang sebetulnya tidak memojokkan agama apapun. Sebuah agama, jika sampai terganggu oleh sebuah film fiktif, tentu punya masalah internal, di dalam dirinya sendiri, bukan masalah eksternal dalam hubungan dengan agama-agama lain. Saya ulangi: pesan spiritual film Noah sangat sejalan dengan pesan spiritual teks keagamaan Kejadian 6-9, yakni bahwa dalam kehidupan ini setiap insan harus memilih untuk menjadi baik atau untuk menjadi jahat dengan segala konsekuensinya. Tak ada agama apapun yang diserangnya. Malah kita harus akui, pesan moral Aronofsky lewat film Noah sudah jauh melampaui pesan moral teks-teks kitab suci ketika dia menawarkan eksistensialisme sebagai sebuah jalan kehidupan yang bermartabat. Pada sisi lain yang suram, setiap hari kita di Indonesia dijejali film-film di berbagai saluran TV dan di layar-layar lebar yang mengisahkan hal-hal fiktif yang tidak ada nilai saintifiknya atau nilai moralnya, misalnya film-film tentang kuntilanak, sundal bolong, nyi blorong, hantu ngesot, dan makhluk-makhluk “jejadian” lain. Tokh film-film ini bebas saja ditayangkan, dan terus saja diumpankan ke dalam benak masyarakat. Di mana peran LSF untuk kategori film-film rakyat semacam ini, yang sesungguhnya mendangkalkan pikiran manusia dan menaklukkannya di bawah takhayul-takhayul?

 

Lantas, apakah kejauhan jika orang menduga bahwa LSF tampak jelas ikut-ikutan Pakistan, Qatar, Bahrain dan Uni Emirat Arab dalam melarang pemutaran film Noah di Indonesia yang jelas secara konstitusional bukan negara Islam? Seandainya para pemuka Muslim dalam LSF sangat berkeberatan terhadap film Noah karena alasan-alasan tertentu (misalnya, karena film ini menampilkan wajah fiktif nabi Nuh), ya himbaulah umat Muslim Indonesia untuk tidak menontonnya, tapi jangan hambat umat-umat beragama lain yang ingin menyaksikan film ini di bioskop-bioskop di Indonesia. Yang mengatur negara Indonesia yang demokratis bukan hukum-hukum agama Islam, tetapi hukum positif (ius positum) yang dibuat manusia. Di dalam demokrasi dan oleh hukum positif, kreativitas dan imajinasi manusia dalam dunia kesenian dan dunia sains diberi tempat sangat luas dan longgar. Tentu LSF sudah tahu, dalam era teknologi Internet sekarang ini, kalau orang tidak bisa menonton film Noah (dan semua film lain yang diberangus) lewat layar-layar lebar, ya mereka akan menontonnya lewat Internet, atau cari sendiri DVD-nya (umumnya akan berupa DVD bajakan) lalu putar di rumah sendiri. Atau mungkin LSF ingin memasung Internet juga? Atau toko-toko penjual DVD-DVD bajakan juga akan disegel?

 

Memang film Noah memuat banyak imajinasi insan perfilman, yang tidak sejalan dengan detail kisah Nuh dalam teks terbatas Kejadian 6-9. Anda tahu ada berapa jumlah kata bahasa Indonesia dalam teks skriptural tentang Nuh dalam Kejadian 6-9? Maksimal hanya 2.000 kata. Untuk bisa hasilkan film Noah yang berdurasi lebih dari dua jam, tentu saja 2.000 kata sangat kurang; dus perlu imajinasi kreatif ditambahkan di sepanjang film ini, yang dapat dibangun berdasarkan sumber-sumber info lain di luar kitab suci, atau murni imajinasi kreatif otak manusia. Dilihat dari sudut ini, sebagai sebuah film fiktif, film Noah sebetulnya adalah suatu usaha kontekstualisasi teks kitab suci ke dalam dunia pengalaman kita sehari-hari di era modern. Sebagai usaha kontekstualisasi yang kreatif dan imajinatif, tidak harus film ini terpaku pada teks-teks kitab suci, sementara tetap setia pada pesan-pesan moral spiritualnya.

 

Mungkin anda langsung bertanya, apakah ada petunjuk-petunjuk dalam film Noah bahwa film ini adalah suatu usaha kontekstualisasi amanat Kejadian 6-9 ke dalam dunia modern yang berbiaya mahal? Ya, ada dan sangat jelas, yakni dalam tema terbesarnya, yakni environmentalisme. Dalam suatu wawancara yang diadakan The Daily Beast, direktur fotografi (atau sinematografer) film Noah, Matthew Libatique, menyatakan bahwa sebagai epik alkitabiah, film Noah menyampaikan sebuah peringatan tegas bahwa perubahan iklim sedang melanda planet Bumi sekarang ini. Saya kutipkan sepenuhnya ucapan Libatique selanjutnya, “Salah satu hal yang saya apresiasi dari film ini adalah pernyataannya bahwa film ini muncul pada saat yang tepat ketika perubahan iklim sedang melanda planet Bumi. Tetapi banyak orang tanpa ragu menyangkali fakta perubahan iklim ini karena mereka diminta untuk menyangkalinya. Jadi fakta bahwa kita masih berada dalam suatu masyarakat di mana orang terus-menerus sedang menyangkali bahwa perubahan iklim sedang berlangsung, adalah fakta yang gila dan tidak masuk akal. Sains dan agama telah dan senantiasa berkonflik.”/15/

 

Masuk akal jika janji Allah kepada Nuh yang diafirmasi dengan bianglala sebagai tanda dan meterainya setelah air bah surut membuat sangat banyak orang beragama di segala zaman dan di segala tempat tidak percaya bahwa planet Bumi akan bisa terancam lagi oleh suatu bencana ekologi planetari seperti perubahan iklim, climate change, yang sekarang sedang melanda Bumi yang akan berakibat sangat serius bagi semua bentuk kehidupan dan bagi planet biru ini sendiri. Mereka yang semacam ini mungkin sekali juga akan masih tetap tidak percaya sekalipun telah membaca dengan cermat naskah pidato Presiden Barack Obama yang dengan sangat serius menyoroti fakta-fakta perubahan iklim global, yang disampaikannya pada 25 Juni 2013 di Universitas Georgetown. Di awal pidatonya, Obama sudah menegaskan bahwa “Apa yang mereka [National Weather Service] telah temukan, dari tahun ke tahun, adalah bahwa peringkat polusi carbon di atmosfir kita telah meningkat luar biasa. Sains, yang terakumulasi dan ditinjau ulang selama berdekade-dekade, memberitahu kita bahwa planet kita sedang berubah dengan cara-cara yang akan berdampak sangat dalam pada seluruh umat manusia. Dua belas tahun terpanas dalam sejarah yang terekam semuanya terjadi dalam 15 tahun terakhir. Tahun lalu, temperatur di sejumlah area samudera-samudera mencapai angka tertinggi, dan es di Antartika menyusut sampai ke ukuran terkecil yang tercatat-- lebih cepat dari yang telah diprediksi kebanyakan model. Ini adalah fakta-fakta.”/16/

 

Menurut temuan-temuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), perubahan iklim akan mengganggu persediaan berbagai makanan dan air, memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, menimbulkan banyak kerusakan pada alam yang tidak dapat diperbaiki kembali. IPCC sedang fokus pada berbagai langkah yang perlu diambil untuk mempersiapkan manusia untuk dapat beradaptasi dengan suhu udara yang meningkat, gelombang-gelombang panas yang lebih banyak, banjir besar di mana-mana, badai-badai besar, dan naiknya permukaan air laut. Yang mengagetkan adalah fakta bahwa, sebagaimana ditunjukkan data survei Pew Research Center di tahun 2013, hanya 40% orang Amerika dan 39% orang China memandang perubahan iklim sebagai sebuah ancaman besar./17/  

 

Apakah perubahan iklim akan meningkatkan angka perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain pada level global dalam rangka mencari tempat tinggal yang lebih mendukung kehidupan, karena negeri-negeri mereka semula tenggelam karena naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim? Logisnya ya, di masa depan. Tetapi, sebagaimana ditemukan oleh seorang pakar peneliti dari Vienna Institute of Demography dan Wittgenstein Center for Demography and Global Human Capital di Wina, Nikola Sander, sampai dengan tahun 2010 angka menyeluruh migrasi global tetap stabil, yakni bahwa sekitar 6 orang dari setiap 1000 orang mengganti negara tempat tinggal mereka dalam setiap periode dari tiga periode lima tahunan antara 1995 sampai 2010. Terlihat bahwa globalisasi memberi dampak yang nyaris tidak kentara pada angka migrasi global./18/ Tetapi, perubahan iklim mungkin sekali akan berdampak besar pada migrasi manusia di masa-masa yang akan datang ini. Selain itu, perubahan iklim yang mengakibatkan naiknya suhu udara global sangat mungkin juga akan menghidupkan kembali banyak virus “raksasa” yang semula sudah mati terkubur di tanah, membeku, di bawah permukaan lapisan-lapisan es, yang sekian di antaranya akan mengancam kembali umat manusia./19/  

 

Kembali ke topik sejarah. Setiap sejarah, saat dihadirkan di zaman dan tempat kita, selalu tidak pernah bisa sebagai fakta sejarah murni. The 100 percent objective history is impossible and unnecessary. Sejarah 100 persen objektif mustahil didapat dan juga tidak perlu.

 

Kenapa? Sebab setiap sejarah selalu sebuah rekonstruksi masa lampau yang berinteraksi dengan masa kini si sejarawan. Setiap sejarah selalu sebuah pertemuan dan perpaduan kreatif antara horison masa lalu (Horison 1) dan horison masa kini (Horison 2). Konsep sejarah yang interaktif antara dua horison ini pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Jerman Hans-Georg Gadamer (1900-2002) dalam bukunya Truth and Method./20/

 

Karena sejarah selalu sebagai pertemuan dan interaksi dua horison itu, sebagai Horizontverschmelzung, tidak ada apa yang dinamakan sejarah murni, pure or mere history. Karena merupakan pertemuan dua horison itu, maka setiap tulisan sejarah akan membawa pesan-pesan masa lalu yang relevan untuk manusia di masa kini dalam era modern. Inilah gunanya sejarah sebagai sebuah interaksi masa lampau dan masa kini. Karena sejarah itu selalu sebagai sebuah dialektika dan interaksi masa lalu dan masa kini, maka setiap sejarah selalu kreatif, dan tidak pernah sebagai penghadiran atau pemindahan begitu saja bulat-bulat secara literalistik masa lalu ke masa kini. Jelas, menulis sejarah adalah sebuah kegiatan hermeneutik yang kreatif sekaligus berdisiplin. Lewat dialektika dan interaksi ini, Horison 1 dan Horison 2 saling mengontrol dan saling menyumbang, sehingga tidak akan pernah dihasilkan sebuah tulisan sejarah yang sembarangan dan subjektif seratus persen. Menolak dialektika ini sama dengan menolak sejarah, dus berarti juga menolak kehidupan kita sendiri.

 

Jika tidak ada sejarah murni, ini berarti bahwa dalam setiap tulisan sejarah akan bisa selalu ada unsur-unsur fiktifnya, walaupun dalam jumlah sangat, sangat minim. Selalu ada elemen-elemen fiksi dalam karya-karya sejarah; dan, sebaliknya, selalu ada sekelumit fakta dalam karya-karya fiktif. Michael Wood menyatakan bahwa sejarah, bahkan sejarah yang tergolong paling dapat dipercaya, dapat memuat unsur-unsur fiksi, dan novel-novel yang termasuk genre fiksi dapat berfungsi sebagai dokumen-dokumen sejarah./21/ Selain itu, Charles W. Hedrick bahkan juga menegaskan bahwa sejarah adalah suatu konstruk mental fiktif./22/ Karena itu dapatlah dipahami jika Denis C. Feeney menyatakan bahwa perbedaan antara sejarah dan epik tidaklah berkaitan dengan apa yang kita sebut historisitas atau kesejarahan, melainkan suatu persoalan mengenai derajat kefiktifan yang diterapkan dalam suatu pengisahan: seberapa besar unsur fiksi dalam karya sejarah, dan seberapa besar unsur fakta dalam karya fiktif./23/

 

Jika demikian duduk perkaranya, film fiktif Noah yang imajinatif juga perlu ditonton masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran yang sangat berharga, sebab di dalamnya tetap ada interaksi dan dialektika antara teks-teks suci kuno yang ditulis di masa lalu dan “skrip-skrip kultural” yang dihasilkan manusia modern. Tentu saja, dalam film fiktif Noah unsur-unsur fiktifnya sangat besar, jauh, jauh melampaui unsur-unsur faktual sejarahnya. Apa unsur sejarah dalam film fiktif Noah? Unsur sejarah yang real dalam film ini adalah pergumulan real eksistensial manusia kapanpun dan di manapun juga antara hal yang baik dan hal yang jahat, pergumulan yang konon sudah dimulai sejak zaman Adam dan Hawa mitologis, hingga ke kita sekarang ini. Lebih dari itu, dalam film Noah, pergumulan real eksistensial ini ditempatkan dalam bingkai fakta masa kini yang lebih besar, yakni terancamnya planet Bumi dan semua bentuk kehidupan oleh perubahan iklim. Jadi, bagaimana bisa terjadi, kalau film sebagus ini sampai bisa dilarang diputar di Indonesia, sebuah negara demokratis?

 

Pendek kata, pelarangan oleh LSF atas film imajinatif Noah hanya menimbulkan tanda tanya besar apa motif mereka yang sebenarnya. Saya kembali menduga kuat, dalam melarang film Noah LSF hanya mengekor beberapa negara Islam yang sebelumnya telah menetapkan pelarangan pemutaran film ini. Negara kita bukan negara Islam. Kita merdeka sudah hampir tujuh dasawarsa bukan sebagai negara agama, tapi sebagai sebuah negara demokratis yang kian hari harus kian kokoh. Masyarakat kita sudah semakin dewasa. Biarlah mereka yang menilai kelayakan sebuah film, jangan tanggungjawab ini diambilalih oleh LSF. Berilah kembali hak mereka sebagai warganegara Indonesia untuk menonton film Noah di bioskop-bioskop umum.

 

Meskipun saya telah menyatakan demikian, tidaklah berarti LSF kita tidak perlukan. Kita tentu memerlukannya, tetapi hanya sejauh LSF bekerja secara ilmiah, tidak secara ideologis. Kenapa? Karena sains bersahabat dengan, dan menghendaki kemajuan, seni, bahkan sains adalah juga puisi tentang realitas yang ditelaah secara saintifik; tetapi ideologi-ideologi dunia yang diabsolutkan, teristimewa agama sebagai sebuah ideologi tertutup yang sudah ketinggalan zaman, terbukti kerap dengan bodoh dan brutal menghancurkan, memberangus dan membantai seni dan pencipta-penciptanya.

 

 

Notes

 

/1/ Yang menjadi landasan keputusan LSF melarang sebuah film diputar di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah (PP) nomor 7 tahun 1994. Menurut PP ini penyensoran atau pelarangan sebuah film dilakukan berdasarkan pertimbangan atas 6 segi berikut: keagamaan, pendidikan, sosialbudaya, politik dan keamanan, ketertiban umum, dan pendidikan. Untuk film Noah, ada dua segi yang terutama dipertimbangkan, yakni keagamaan dan ketertiban umum. Pertimbangan segi keagamaan mencakup: apakah sebuah film menampilkan kesan anti-Tuhan atau anti-agama, mengganggu hubungan antar-umat beragama, dan mengandung penghinaan dan pelecehan terhadap salah satu agama dari enam agama resmi yang diakui negara. Dari sudut ketertiban umum, pertimbangannya adalah apakah sebuah film mendorong timbulnya sentimen SARA (kesukuan, keagamaan, asal ras/keturunan, dan antar-golongan).

 

/2/ Bertolakbelakang dari pandangan ilmu pengetahuan, kalangan literalis kreasionis mempertahankan bahwa reptil dinosaurus hidup bersama dengan manusia (atas dasar teks Kejadian 1:26-28), dan luput dari kebinasaan total lewat air bah karena diselamatkan oleh Nuh dalam bahteranya, bahkan hidup terus sampai ke zaman Yesus dan, kata mereka, sangat mungkin Yesus juga menunggang seekor dinosaurus. Mereka tidak tahu bahwa reptil-reptil dahsyat yang menakutkan, yang dinamakan dinosaurus, telah lenyap 66 juta tahun lalu, sementara homo sapiens baru muncul 400.000 tahun yang lalu. Seandainya mereka tahu, mereka pasti akan menyatakan bahwa pandangan-pandangan ilmu pengetahuan itu salah; dan yang benar hanyalah teks-teks Alkitab.

 

/3/ Gambaran Aronofsky tentang Para Pengawas ini tentu bersumber dari 36 pasal pertama Kitab Henokh Ethiopik (atau juga dikenal sebagai Kitab 1 Henokh) yang dinamakan Kitab Para Pengawas (1 Henokh 1-36). Dalam kitab ini, dikisahkan bahwa para malaikat memgambil keputusan untuk melanggar batas-batas orde kosmik yang telah ditetapkan Allah. Alhasil, terjadilah malapetaka besar: malaikat-malaikat surgawi menyusup masuk ke dalam dunia dan kawasan kehidupan manusia sehingga muncullah kekacauan besar dan penderitaan. Ulasan analitis mutakhir yang sangat informatif tentang Kitab Para Pengawas diberikan oleh Veronika Bachmann, “The Book of the Watchers (1 Enoch 1-36): An Anti-Mosaic, Non-Mosaic, or Even Pro-Mosaic Writing?”, Journal of Hebrew Scriptures, Vol. 11, Article 4 doi:10.5508/jhs.2011.v11.a4. File PDF tulisan Bachmann ini tersedia di http://www.jhsonline.org/Articles/article_151.pdf. Pada hlm. 23, Bachmann menyatakan bahwa Kitab Para Pengawas adalah “sastra pertama yang mendasarkan seluruh pesannya pada gagasan bahwa Taurat dan penciptaan terikat satu sama lain dengan erat.” 

 

/4/ N.K. Sandars (penerjemah dan pengintrodusir), The Epic of Gilgamesh (London: Penguin Books, 1960, 1972) hlm. 108-113.

 

/5/ Mengenai hubungan 1 Henokh dengan film Noah, lihat catatan 2 di atas. Menurut G.H. Box, penulis kitab Yobel jelas memasukkan bagian-bagian sastra-sastra yang memakai nama Nuh sebagai penulisnya (lihat Yobel xxi.10; bdk. x.13). Tampaknya kitab Yobel juga memakai dua bagian besar dari sebuah tulisan yang berjudul Kitab Nuh dalam pasal-pasal vii.20-39 dan x.1-15. Kitab Nuh ini juga menjadi salah satu sumber dari 1 Henokh, khususnya pasal-pasal vi-xi; lx; lxv-lxix.25; dan cvi-cvii. Ada cukup alasan untuk percaya bahwa penulis kitab Yobel juga mengenal versi tertentu kitab 1 Henokh, khususnya 1 Henokh vi-xvi; xxiii-xxxvi, dan lxxii-xc; teristimewa iv.17. Menurut G.H. Box, kitab Yobel ditulis dalam kurun paruhan kedua abad ke-2 SM, oleh seorang imam Saduki yang menjadi anggota partai Hasidim pada awal era Makkabe. Lihat Robert Henry Charles (penerjemah) dan G.H. Box (penulis introduksi), The Book of Jubilees or The Little Genesis (Merchant Books, 2011; cetakan pertama 1917), hlm. xiii, xxxii, xxxiii.

 

Menurut R. H. Charles, kitab Yobel ditulis dalam bahasa Ibrani antara saat naiknya Yohannes Hyrkanus ke jabatan imam besar di tahun 135 SM dan putusnya hubungannya dengan sekte Farisi beberapa tahun sebelum kematiannya di tahun 105 SM; persisnya antara tahun 109-105 SM. Ada bagian-bagian dalam kitab Yobel yang relevan dengan film Noah, yang mengacu ke kejatuhan Adam dan digagahinya anak-anak perempuan manusia oleh para malaikat. Dikisahkan dalam bagian-bagian ini bahwa akibat kejatuhan Adam terbatas hanya kepada Adam dan hewan-hewan: Adam diusir dari Taman Eden (iii. 17ff.) dan kemampuan berbicara hewan-hewan ditiadakan (iii.28). Tetapi kebobrokan moral umat manusia selanjutnya tidak diasalkan pada kejatuhan Adam, melainkan pada rayuan dan persenggamaan para malaikat dengan anak-anak perempuan manusia, padahal para malaikat masuk ke dalam dunia karena mereka ditugaskan untuk mengajar manusia; dan pada bujuk rayu seksual oleh roh-roh demonik (vii.27). Kejahatan dan kebobrokan yang ditimbulkan oleh ulah para malaikat ini diakhiri dengan pembinasaan semua keturunan para malaikat dan korban-korban mereka lewat Air Bah; tetapi dosa yang ditimbulkan oleh roh-roh jahat itu dibiarkan terus sampai ke pengadilan ilahi di akhir zaman (vii.27; x.1-15; xi.4 ff.; xii.20). Lihat R. H. Charles, “The Book of Jubilees” dalam The Apocrypha and Pseudepigrapha of the Old Testament (Oxford: Clarendon Press, 1913). Naskah PDF tersedia pada https://www.alge.no/ebooks/apocrypha/The_Book_of_Jubilees.pdf.

 

/6/ James Ussher, The Annals of the World (London, 1658). Lihat pada http://www.preteristarchive.com/Books/1650_ussher_annals.html; naskah PDF karya Ussher ini tersedia di https://archive.org/details/AnnalsOfTheWorld.

 

/7/ Situs web resmi SENS Research Foundation beralamat di http://www.sens.org/. Tentang berbagai usaha sains dan teknologi modern lainnya untuk menaklukkan kuasa kematian dan meraih keabadian, lihat Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 13 (hlm. 393-411). 

 

/8/ Tentang punahnya berbagai jenis dinosaurus dan berbagai penyebabnya telah diulas dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 10 (hlm. 325-341).

 

/9/ Tentang ini, lihat tulisan mencerahkan Robert R. Cargill, “On the Misuse of Archaeology for Evangelistic Purposes” (June 2010) dalam http://www.bibleinterp.com/articles/misuse357930.shtml.

 

/10/ Lihat Ioanes Rakhmat, “Merenungi Objektivitas Historiografi Bertolak dari Kontroversi Film Soekarno”, Freethinker blog, 31 Desember 2013, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2013/12/merenungi-objektivitas-historiografi.html.

 

/11/ Teodise adalah sebuah kata majemuk, yang terdiri dari 2 kata Yunani: theos = allah; dan dikee = keadilan. Teodise adalah usaha menjelaskan dan mempertahankan kepercayaan bahwa Allah tetap adil dan mahakasih dan mahakuasa kendatipun kesengsaraan dan azab diderita sangat banyak orang saleh, sampai membuat mereka akhirnya tidak tahan, lalu melawan dan menghujat Allah, atau malah dikalahkan oleh azab mereka dalam bentuk kematian yang kejam dan brutal. Dalam teodise, para teolog lewat berbagai argumentasi berusaha keras untuk membenarkan Allah apapun juga hal yang dilakukan Allah ini, dan apapun juga hal yang dialami kaum mukmin. Usaha berteologi ini tentu saja sangat sulit dan lebih banyak gagal ketimbang berhasil. Hanya dalam agama-agama monoteistik muncul persoalan teodise yang memerlukan penyelesaian dan jawaban.

 

/12/ Robert C. Solomon, ed., Existentialism (New York, N.Y.: Random House, 1974), hlm. x-xii.

 

/13/ Lihat artikel opini “Ken Ham: The Unbiblical Noah Is a Fable of a Film”, Time.com March 28, 2014, pada http://time.com/42274/ken-ham-the-unbiblical-noah-is-a-fable-of-a-film/.

 

/14/ Erick Erickson, “Darren Aronofsky's Noah”, Redstate blog, March 27, 2014, pada http://www.redstate.com/2014/03/27/darren-aronofskys-noah/.

 

/15/ Lihat wawancara oleh Marlow Stern, “'Noah' Is a Global Warming Epic About the Battle Between Religion and Science, Says Cinematographer”, The Daily Beast, March 27, 2014, pada http://www.thedailybeast.com/articles/2014/03/27/noah-is-a-global-warming-epic-about-the-battle-between-religion-and-science-says-cinematographer.html.

 

/16/ Lihat Full Transcript of Obama's Remarks on Climate Change pada http://blogs.wsj.com/washwire/2013/06/25/full-transcript-of-obamas-remarks-on-climate-change/.

 

/17/ Lihat laporan wartawan Reuters bidang lingkungan hidup Alister Doyle, “Climate Change Will Disrupt Food Supplies, Slow Economies, Cause Irreversible Damage, IPCC Finds”, Huffingtonpost, 23 March 2014, pada http://www.huffingtonpost.com/2014/03/23/climate-change-damage-un-report_n_5016357.html.

 

/18/ Lihat John White, “Rising tide of migration is a myth, say global stats”, Newscientist.com, 27 March 2014, pada http://www.newscientist.com/article/dn25311-rising-tide-of-migration-is-a-myth-say-global-stats.html#.U1YjFaI92xg.

 

/19/ Tentang kemungkinan virus-virus yang sudah lama mati membeku di bawah lapisan-lapisan es hidup kembali sebagai akibat kenaikan suhu udara global yang ditimbulkan perubahan iklim, lihat reportase Arielle Duhaime-Ross, “Climate change threatens to bring eradicated viruses back from the dead: Scientists revive a frozen 30,000 year-old giant Siberian virus”, The Verge, 3 March 2014, pada http://www.theverge.com/2014/3/3/5466328/climate-change-threatens-to-bring-eradicated-viruses-back-dead. Tentang virus “raksasa” dari kawasan Siberia yang sudah membeku 30.000 tahun dan berhasil dihidupkan kembali, lihat makalah ilmiahnya: Matthieu Legendra, Julia Bartoli, et al., “Thirty-thousand-year-old distant relative of giant icosahedral DNA viruses with a pandovirus morphology”, PNAS Vol. 111, No. 11, 4274-4279, doi: 10.1073/pnas.1320670111, pada http://www.pnas.org/content/111/11/4274.full.

 

/20/ Hans-Georg Gadamer, Truth and Method (London dan New York: Continuum International Publishing Group, 1975, 2006, 2011), hlm. 305.   

 

/21/ Michael Wood, “Prologue” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction in the Ancient World (Exeter: University of Exeter Press, 1993) hlm. xiii (xiii-xviii).

 

/22/ Charles W. Hedrick, Parables As Poetic Fictions: The Creative Voice of Jesus (Peabody: Hendrickson Publisher, 1994) hlm. 81 ff. Dalam hal ini Hedrick memanfaatkan kajian Franck Kermode, The Sense of An Ending: Studies in the Theory of Fiction (London: Oxford, 1966).

 

/23/ Denis C. Feeney, “Towards an Account of the Ancient World’s Concepts of Fictive Belief” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction, hlm. 233 (230-244).

 

 

 

Last edited by ioanesrakhmat -- 25 Apr 2014 | 6:05:47 PM

Komentar
Tulis Komentar

Anda harus login dahulu untuk menulis komentar