Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian
Lelaki itu


Mungkin aku tidak cukup peduli padanya sampai aku mengetahui namanya. Meskipun aku ingin.Tapi rasa takutku lebih besar daripada peduliku.

Lelaki itu. Rambutnya agak panjang kemerahan. Selalu menggunakan topi. Wajahnya yang khas, bukan wajah orang sunda, sering sayu kulihat. Jarang tersenyum. Ia membawa kantong keresek yang entah apa isinya. Berjalan seorang diri dari kebon bibit sampai taman Ganesha. Atau sekitarnya. Sendal miliknya sudah rusak ia pakai berjalan..

Aku pernah melihatnya membasahi rambutnya. Aku pernah melihatnya berjalan. Aku pernah melihatnya tertawa. Aku pernah melihatnya berbincang dengan seseorang. Aku pernah melihatnya menyapu jalanan. Orang-orang kebanyakan, mungkin menghindarinya. Dia memang tidak biasa

Caranya berjalannya menggangguku. Sekilas, aku tahu bahwa sendalnya rusak, dan ia tidak memakai sendalnya dengan posisi yang benar. Kakinya akan sakit bila ia terus seperti itu. Aku berusaha mengacuhkan. Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Sendal itu selalu berhasil membuatku menengok ke belakang setiap kali dia berlalu. Hati kecilku memintaku untuk melakukan sesuatu.

Maka hari itu datang, ketika akhirnya aku sedang punya cukup rezeki untuk dibagikan dengannya. Yang pertama terpikir olehku adalah mengganti sendalnya. Setidaknya ia bisa berjalan dengan nyaman. Ketika di jalan pulang, aku bertemu denganya, kuberikan sepasang sendal hijau padanya.

“Ini ambil saja.”, kataku.

Dia bingung.

“Iya ambil saja, ganti sendalnya.”, ucap seorang bapak yang ikut berhenti saat melihatku memberinya sendal.

“Pakai yang ini, semoga lebih enak.”

Dia mengambilnya. Dia tersenyum. Dia mengucapkan terima kasih. Rasanya hatiku lega. Seperti melepaskan sesuatu yang lama tertahan atau berhasil melakukan sesuatu yang ingin dilakukan.

2 hari kemudian, aku bertemu dengannya. Kau tahu, yang pertama kali kulihat adalah kakinya. Aku bertanya-tanya apakah sendal itu pas untuknya. Apakah dia memakainya dengan benar. Apakah itu berguna. Tapi, aku menghela nafas. Sendal itu, dia tidak memakainya. Sendal itu entah ada dimana. Sendal itu, dia pasti tidak memerlukannya. Setidaknya, dalam pikirannya.

Tak ada intensi negatif di hatiku saat melihatnya. Bahkan setelah kejadian sandal itu. Aku hanya tertawa dan bertanya-tanya ia gunakan untuk apa sandal itu. Itu pasti salahku. Aku tidak mengasihaninya. Bahwa saat melihatnya , aku memikirkan sisi lain. 

Bagiku, dia lebih beruntung daripada orang-orang yang Allah biarkan dalam kesesatan. Dia lebih beruntung daripada laki-laki yang asyik mendapatkan harta tak halal, laki-laki yang bermain dengan perasaan banyak wanita, laki-laki menggunakan ototnya untuk melukai kehidupan di sekitarnya. Aku tidak bilang bahwa lelaki itu lebih baik, karena biarlah Allah yang menilai soal itu. Hanya bagiku, dia beruntung. Bagiku, Allah telah menjaganya dengan caraNya.

Kenapa aku menulis ini? Menulis tentang laki-laki itu?

Entahlah. Mungkin untuk mengingatkanmu bahwa kamu bisa jadi laki-laki yang lebih beruntung daripada lelaki itu.

Bandung, 7 November 2018
Muthi Fatihah Nur

Karya : Muthi Fatihah Nur